Saturday, 29 November 2025 22:31 WIB
Oleh: Redaksi FiskusNews
Jakarta β Wacana “Serakahnomic,” yang dipopulerkan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto, menyoroti sistem ekonomi yang berpotensi melahirkan ketimpangan parah akibat akumulasi kekayaan yang tidak wajar. Dalam konteks perpajakan nasional, “Serakahnomic” dapat diartikan sebagai praktik penghindaran dan penggelapan pajak berskala besar oleh segelintir entitas atau individu berkekayaan tinggi (High-Net-Worth Individuals/HNWIs), yang secara fundamental merusak pondasi keadilan fiskal.
Pemerintah melalui otoritas pajak kini memiliki senjata digital mutakhir untuk menghadapi tantangan ini: Artificial Intelligence Compliance Ecosystem (AICEco). Sistem ini bukan hanya alat kepatuhan biasa, melainkan sebuah benteng digital yang dirancang untuk secara sistematis menutup celah kebocoran pajak yang dimanfaatkan oleh praktik “Serakahnomic.”
Inti dari AICEco adalah kemampuannya untuk mengintegrasikan dan menganalisis Big Data dari berbagai sumber, sebuah mandat yang ditegaskan melalui Pasal 35A Undang-Undang KUP. Data yang diolah tidak terbatas pada SPT, tetapi mencakup:
Sistem ini menggunakan kecerdasan buatan untuk memproses data-data ini menjadi informasi yang actionable (dapat ditindaklanjuti).
AICEco bekerja dalam siklus yang diwakili oleh tiga cincin holografik yang berputar pada inti sistem:
Relevansi utama AICEco dalam melawan “Serakahnomic” terletak pada kemampuannya menghasilkan dua luaran kunci secara instan dan akurat:
Dengan proyeksi holographic display yang menampilkan ‘Scales of Justice’ (Timbangan Keadilan) sebagai fokus akhir, AICEco secara visual dan fungsional mewujudkan prinsip bahwa kepatuhan pajak yang adil harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
Pada akhirnya, AICEco berfungsi sebagai penyeimbang kekuatan antara wajib pajak besar dengan negara. Dengan data yang kuat dan analitik yang presisi, otoritas pajak tidak lagi bergantung pada sampel acak atau dugaan, melainkan pada bukti digital yang terstruktur untuk memastikan bahwa mereka yang memperoleh kekayaan terbesar membayar kontribusi fiskal yang semestinya. Ini adalah langkah fundamental untuk memastikan “Serakahnomic” tidak mendapat ruang untuk berkembang di Indonesia.
#fiskusnews.com
Share
Eksplor lebih dalam berita dan program khas fiskusnews.com